Bagaimanakah Pendidikan Era Milenial dari Kacamata Seorang Guru?
Generasi milenial tentunya berbeda dengan generasi lainnya. Mulai dari pola pikir hingga kebutuhannya. Ibarat telepon genggam, ponsel keluaran 10 tahun yang lalu tentunya berbeda dengan ponsel keluaran terkini. Begitu pula dengan siswa era terdahulu dengan era milenial.
Dari
penuturan salah satu guru di SMA N 1 Kuta Utara yang sudah mengajar dari tahun
1989, Bapak Gede Sugita, pada generasi sebelumnya, siswa lebih sering
berinteraksi dengan teman-temannya dan karakter yang lebih disiplin. Hal ini
disebabkan karena siswa pada generasi sebelumnya belum merasakan perkembangan
teknologi yang pesat seperti sekarang ini.
Berbeda
dengan generasi sebelumnya, siswa di era milenial hidup dalam zaman yang serba
tersedia dan tumbuh besar di masa perkembangan teknologi yang amat pesat. Mau
tidak mau pengaruh teknologi akan berdampak terhadap pembentukan karakter,
sikap, dan gaya hidup bagi generasi ini. Kehidupan mereka tidak akan bisa lepas
dari penggunaan teknologi dalam kehidupannya. Siswa cenderung lebih terfokus
pada dunianya sendiri. Ini mengakibatkan kurangnya komunikasi antarsiswa di era
ini. Selain itu, siswa juga kurang displin dan siswa cenderung sulit mengatur
waktu kapan harus bersosialisasi dan kapan harus bermain gawai.
Melihat
hal ini, pendidikan yang harus ditanamkan pada siswa di era milenial adalah
penanaman pendidikan karakter yang nantinya akan menjadi dasar dan benteng yang
kuat bagi para siswa dalam menghadapi persaingan global. Selain itu, siswa juga
harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri dan mampu memutuskan apa yang
menjadi pilihannya karena dirinya sendiri, bukan karena pengaruh orang lain.
Menurut
Mrs. Ari Sapitri, guru bahasa Inggris di SMA N 1 Kuta Utara, peran guru di era
milenial ini tentunya lebih berat karena tantangan di era milenial ini juga
jauh lebih besar. Selain mengajar, guru juga harus mampu memberikan pendidikan
karakter kepada siswa karena pendidikan karakter merupakan kunci utama dan tak
dapat tergantikan oleh teknologi.
Guru yang baik juga harus memenuhi kompetensi
dan indikator penilaian kerja guru. Peran sosok guru juga sebagai fasilitator,
motivator, dan inspirator bagi siswa siswanya. Sehingga, guru harus mampu
membimbing, mengarahkan, dan memantau siswa-siswanya. Pendekatan guru dengan
siswa juga lebih banyak sebagai teman, karena guru dan siswa di sini sama-sama
belajar.
Di
samping kecerdasan secara akademik, guru juga dituntut untuk memiliki
keterampilan bagaimana cara mendidik, memahami siswa, mampu menguasai kelas, dan
bisa menjadi teladan bagi siswanya. Guru juga diharapkan menjadi pribadi yang
kreatif sehingga pembelajaran yang disampaikan tidak monoton. Hal ini
disampaikan oleh salah satu guru honorer di SMA N 1 Kuta Utara, Ibu Wiwin
Suryantari.
Menjadi
guru, terutama di era seperti sekarang ini, memang memiliki tantangan
tersendiri. Tantangan yang harus dihadapi adalah guru harus mampu mengimbangi
siswa yang cenderung lebih mengerti tentang teknologi. Sehingga, guru harus
bisa menggunakan teknologi dan mampu
memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai sumber pembelajaran dan media
pembelajaran.
Namun,
tentunya ada hambatan yang dialami oleh guru yaitu tidak semua guru bisa
menguasai teknologi alias gagap teknologi. Hal ini cenderung dialami guru senior
yang berumur 40 tahun ke atas.
Guru
harus melakukan sejumlah hal agar pola pengajaran sesuai dengan kebutuhan
generasi milenial. Cara mengajar tentunya disesuaikan dengan keadaan siswa dan
materi yang diajarkan. Guru tidak bisa memaksakan siswa karena tidak semua
siswa memiliki kemampuan yang sama. Siswa menyukai pembelajaran yang relevan, spesifik,
ringkas, cepat, dan menyenangkan. Salah satu cara mengajar yang dapat
diterapkan adalah dengan pembelajaran berbasis masalah, sehingga siswa menjadi
lebih aktif dalam pembelajaran dengan guru sebagai pembimbing.
Oleh sebab itu, guru kini bukanlah sekadar profesi. Guru
merupakan kunci peradaban manusia. Baik buruknya kualitas anak bangsa sangat
bergantung pada baik buruknya kualitas guru itu sendiri. Guru yang berkualitas
akan membuka peluang besar untuk melahirkan generasi yang berkualitas pula. Karena
di balik sosok yang hebat, ada peranan guru yang sangat besar.
Seperti kata Bapak Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ke-28, guru adalah akar rumput dalam pendidikan. Bahwa tanpa guru, tidak akan ada pendidikan yang ‘hijau’. Selamanya pendidikan tidak akan subur, apabila guru sebagai akar tidak subur.
Narasumber:
- Drs. I Gede Sugita, M.Pd.
- Ni
Kadek Ari Sapitri, S.S.
- Ni
Putu Wiwin Suryantari, M.Pd.
Komentar
Posting Komentar