Dronaparwa
SINOPSIS
Dronaparwa
merupakan parwa ketujuh dari Astadasaparwa dalam Mahabharata. Dronaparwa
menceritakan tentang diangkatnya Bhagawan Drona sebagai panglima perang pihak
Korawa menggantikan Bhagawan Bhisma yang telah gugur. Diceritakan bahwa
Duryodana mengusulkan untuk melakukan siasat atau taktik perang untuk menangkap
Yudistira hidup-hidup, sebab dengan tertangkapnya Yudistira, perang akan bisa
diakhiri. Hal itu pun disetujui oleh Bhagawan Drona.
Esok harinya, yaitu
pada pertempuran hari ke-11, dilakukanlah siasat tersebut. Namun, hal itu tidak
berhasil dilakukan karena Arjuna selalu berada di samping Yudistira. Pasukan
Korawa pun berunding untuk menjauhkan Arjuna dari Yudistira. Dan pada
pertempuran hari ke-12, Arjuna pun ditantang oleh Susarma untuk bertanding
dengannya di arena sebelah utara medan Kurukshetra yang terpisah jauh dari
perang besar di medan Kurukshetra.
Sementara Arjuna
melawan Susarma, Drona memerintahkan kekuatan pasukannya ke arah Yudistira. Melihat
hal itu, Drestadyumna mendahului menggempur Bhagawan Drona, tetapi Bhagawan Drona
bukanlah tandingannya. Bima pun datang membantu. Namun, Bima disambut oleh Duryodana dan
terjadi perang antara pasukan Bima dan pasukan Duryodana. Hingga pertempuran hari
ke-12 berakhir, Yudistira belum berhasil tertangkap.
Pada pertempuran
hari ke-13, Bhagawan Drona mengatur pasukannya dengan formasi kembang teratai
(cakravyuha) sebagai strategi untuk menculik Yudistira. Abimanyu berhasil mendobrak
formasi cakravyuha dan masuk ke dalam formasi tersebut. Akan tetapi formasi
yang berhasil dibelah oleh Abimanyu itu, ditutup oleh Jayadrata dan pasukannya,
sehingga Abimanyu terperangkap. Bima hendak mengikuti jejak Abimanyu, tetapi
harus berhadapan dengan Jayadrata. Abimanyu yang seorang diri di tengah formasi
tersebut dikeroyok oleh banyak orang hingga berbagai jenis senjata mengenai
tubuhnya dan ia pun gugur dengan anak panah yang tertancap hampir memenuhi
tubuhnya.
Malam harinya,
kemah para Pandawa diselimuti kesedihan. Bhagawan Byasa datang dan menasihati
supaya tidak bersedih apalagi berputus asa terhadap kematian. Arjuna dan Sri
Krishna yang datang ke perkemahan lebih akhir, baru mengetahui kematian
Abimanyu dari Yudistira. Sri Krishna menasihati Arjuna bahwa sebagai ksatria
memang harus siap mati di medan pertempuran. Dan kematian seorang ksatria di
medan perang tidak perlu ditangisi.
Mendengar cerita
tentang kematian putranya, Arjuna pun mengangkat sumpah bahwa esok hari ia akan
membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam. Dan sumpah itu didengar oleh
pihak Korawa. Mereka pun berusaha untuk melindungi Jayadrata.
Pada pertempuran hari ke-14, Arjuna bertempur dengan
Bhagawan Drona. Melihat hal itu, Yudistira pun memerintahkan Drestadyumna untuk
menghadapi Bhagawan Drona sehingga Arjuna bisa menyelinap ke arah Jayadrata.
Drestadyumna pun lalu menyerang Bhagawan Drona dan Arjuna menyelinap ke arah
Jayadrata. Satyaki dan Bima turut mengikuti Arjuna. Duryodana pun mengirimkan
adik-adiknya untuk melawan Bima dan mengirimkan Buriswara untuk melawan
Satyaki. Dan terjadilah pertempuran yang hebat. Bima berhasil mengeroyok
adik-adik Duryodana, sedangkan Satyaki berkali-kali dibanting dan diseret oleh
Buriswara dan Buriswara hendak memenggal leher Satyaki yang pingsan. Sri
Krishna pun memerintahkan Arjuna untuk memanah lengan Buriswara, mulanya ia
menolak karena melawan aturan perang, tetapi ketika diingatkan tindakan pihak
Korawa terhadap Abimanyu, Arjuna memutuskan memanah lengan Buriswara. Ketika
Satyaki siuman, ia pun memenggal leher Buriswara yang sedang kesakitan. Arjuna
pun pergi menuju Jayadrata.
Duryodana memerintahkan ksatria Korawa dan pasukannya
untuk menghadang Arjuna. Matahari hampir terbenam dan Jayadrata belum terbunuh.
Sri Krishna pun menciptakan mendung tebal sehingga dunia menjadi gelap dan
semua mengira matahari telah terbenam. Para ksatria Korawa dan terutama
Jayadrata mengejek Arjuna. Ia melompat-lompat mendekati Arjuna, lalu Sri
Krishna pun membisiki Arjuna bahwa matahari belum terbenam, itu hanya ilusinya.
Tanpa membuang waktu, Arjuna melepaskan panah dan memotong leher Jayadrata
hingga jatuh di pangkuan ayahnya yang sedang beryoga. Ayah Jayadrata yang kaget
kejatuhan kepala pun tanpa sadar mendorong kepala putranya hingga menggelinding
di tanah. Ayah Jayadrata pun ambruk dengan kepala pecah berkeping-keping akibat
termakan kutukannya sendiri. Setelah itu, mendung pun tersibak dan perang
berlanjut.
Atas perintah Sri Krishna, Gatotkaca pun melawan Karna
yang mengamuk. Gatotkaca bergerak dengan sangat lincah. Semua jenis senjata
yang dilepaskan Karna tidak ada yang berhasil mengenai sasaran. Karena bingung
dan cemas, Karna pun mengeluarkan panah Konta yang sebetulnya ia siapkan untuk
menghadapi Arjuna. Ketika panah Konta dilepaskan, panah itu menembus dada
Gatotkaca dan Gatotkaca pun gugur. Dan perkemahan Pandawa kembali diselimuti
kesedihan.
Pada hari ke-15, melihat keadaan perang yang menimbulkan
kerugian besar di pihak Pandawa, Sri Krishna mengatakan bahwa Bhagawan Drona
harus dibunuh untuk mencegah kehancuran Pandawa. Sri Krishna bersiasat untuk
melakukan tipu daya terhadap Bhagawan Drona kepada Arjuna, tetapi ia menolak.
Krishna pun memberi tahu Bima untuk membunuh gajah bernama Aswatama. Setelah
gajah tersebut dibunuh, Bima meneriakkan sekeras-kerasnya bahwa Aswatama telah terbunuh.
Mulanya Bhagawan Drona tidak begitu yakin, ia pun menanyakan kepada Yudistira,
sebab ia tak mungkin berbohong. Dan Yudistira pun menjawab “Betul guru, gajah
Aswatama telah gugur.” Kata gajah itu diucapkan sangat pelan hingga tak
didengar oleh Bhagawan Drona.
Mendengar hal
tersebut, Bhagawan Drona menjadi sedih dan semangat untuk hidupnya telah
lenyap. Ia pun turun dari keretanya dan duduk bersamadhi . Melihat hal itu,
Drestadyumna memenggal leher Bhagawan Drona. Tamatlah riwayat panglima perang
Korawa tersebut. Aswatama mengamuk sejadi-jadinya mendapat laporan bahwa ayahnya
telah gugur. Demikianlah peperangan hari ke-15 dan berakhirnya Dronaparwa.
Sumber: Buku Keutamaan Mahabharata oleh Wayan Nurkanca
KAITAN DENGAN YADNYA
Dewa Yadnya
Penerapan Dewa Yadnya dapat dilihat pada saat:
a. Bhagawan Drona melakukan samadhi memusatkan pikiran
untuk melepaskan nyawa dari tubuhnya ketika mengetahui bahwa Aswatama telah
gugur.
b. Ayah Jayadrata yang melakukan tapa/yoga dengan khusyuk.
b. Ayah Jayadrata yang melakukan tapa/yoga dengan khusyuk.
c. Arjuna yang selalu meminta pertimbangan dari Sri
Krishna sebelum melakukan sesuatu dan mengikuti perintahnya, di mana Sri
Krishna merupakan awatara dari Dewa Wisnu.
Pitra Yadnya
Penerapan Pitra Yadnya dapat dilihat pada saat:
a. Ketika diadakan upacara pembakaran jasad Abimanyu
yang gugur di tangan Jayadrata.
b. Upacara pembakaran jasad Gatotkaca yang gugur di
tangan Karna.
Manusa Yadnya
Penerapan Manusa Yadnya dapat dilihat dari:
a. Para ksatria saling sigap membantu satu sama lain,
seperti pada saat Yudistira hendak ditangkap oleh Bhagawan Drona serta pasukan
Korawa dan Arjuna dengan sigap meluncur dan melindungi Yudistira.
b. Arjuna membantu Satyaki dengan memanah lengan
Buriswara agar Satyaki tidak terbunuh.
c. Drestadyumna, Satyaki, dan Bima yang datang untuk
memberi bantuan dan untuk menghalangi Bhagawan Drona supaya gagal menangkap
Yudistira.
Rsi Yadnya
Penerapan Rsi Yadnya dapat dilihat pada saat:
a. Arjuna menolak untuk berbohong kepada Bhagawan
Drona, karena baginya membohongi guru adalah sebuah dosa besar.
b. Para Pandawa mendengarkan nasihat dari Bhagawan
Byasa untuk tidak menangisi apalagi berputus asa terhadap kematian.
Bhuta Yadnya
Penerapan Bhuta Yadnya dapat dilihat dari:
a. Terbunuhnya gajah Aswatama sebagai bentuk tipu daya
kepada Bhagawan Drona demi mencegah kehancuran di pihak Pandawa.
b. Arjuna dan Sri Krishna yang berhenti sebentar di
perjalanan ke perkemahan untuk sembahyang sandikala.
NILAI-NILAI
Nilai Dharma/Kebenaran
Terlihat dari berlangsungnya perang Bharatayudha
antara pihak Korawa dan Pandawa. Konflik antara dharma yang diperankan oleh
Pandawa dan adharma yang diperankan oleh Korawa. Di mana pihak Pandawa
mengutamakan dharma dalam menjalankan sesuatu.
Nilai Kesetiaan
Salah satu bagian dari Panca Satya adalah Satya Semaya yang berarti setia
kepada janji. Dalam Dronaprawa terdapat bagian di mana Arjuna bersumpah akan
membunuh Jayadrata karena telah membunuh Abimanyu dan sumpahnya itu terlaksana
berkat bantuan Sri Krishna.
Nilai Kegigihan dan Keberanian
Abimanyu dengan gigih dan berani mengobrak-abrik pasukan Korawa dan
melakukan perlawanan yang sangat gigih ketika dikeroyok oleh banyak pasukan
hingga akhirnya gugur. Selain itu, Drestadyumna bertempur dengan gigih melawan
Bhagawan Drona, walau ia tahu Bhagawan Drona bukanlah tandingannya.
Nilai Kasih Sayang
Bhagawan Drona menyetujui siasat untuk menangkap Yudistira hidup-hidup
untuk mengakhiri perang karena dengan demikian ia tidak perlu membunuh Pandawa
yang merupakan murid-murid yang disayangi dan dicintainya. Dapat dilihat juga
ketika pembakaran jasad Abimanyu dan Gatotkaca, semua merasa sangat sedih
terutama orang tua dan istri mereka karena sangat menyayangi Abimanyu dan
Gatotkaca.
Nilai Kebijaksanaan
Yudistira dengan
bijaksana memilih untuk berbohong kepada Bhagawan Drona sesuai dengan arahan
Sri Krishna demi menjaga keselamatan daan mencegah kehaancuran Pandawa. Selain
itu, nilai kebijaksanaan dilihat dari Sri Krishna yang selalu dengan bijak
memberikan nasihat-nasihat yang berdampak baik bagi Pandawa.
Nilai Kedisiplinan
Para Pandawa
merupakan ksatria sejati karena selalu menaati aturan perang dalam peperangan melawan
Korawa dan pasukannya.
Nilai Patriotisme
Arjuna menyanggupi
dan pantang menolak tantangan dari Susarma untuk berperang. Selain itu,
ksatria-ksatria dari kedua belah pihak maju saling menyerang rela berkorban
demi pihak mereka masing-masing.
Nilai Kerjasama
Setiap ada pergerakan
lawan yang mengancam salah satu ksatria dari suatu pihak, dengan sigap yang lainnya
bekerja sama saling membantu. Seperti pada saat Yudistira hendak ditangkap,
Arjuna segera meluncur ke arah Bhagawan Drona. Drestadyumna, Satyaki, dan Bima
yang berusaha menghalangi Bhagawan Drona supaya Yudistira tak tertangkap.
Komentar
Posting Komentar